Dr. Ratno Nuryadi Berbagi Mengenai Riset Nanoteknologi Kepada Mahasiswa IAIN Surakarta di Hari Pendidikan Nasional
May 3, 2016
Dr. Warsito P. Taruno Motivasi Pemuda Dalam Peningkatan IPTEK
May 27, 2016

Bapak Aflakhur Ridlo, Ph.D., Berbagi Ilmu Mengenai Pengelolaan Lingkungan Bagi Kota Industri di Untirta

Cilegon (miti.or.id) — Minggu, 8 Mei 2016 yang lalu, MITI berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Tirtayasa Research Competition and Festival (TRACIVAL) yang di dalamnya juga dilaksanakan acara Seminar Nasional, Final Call for Paper, Final Neuron Aawrds, dan Temu Wilayah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ilmiah se-Jabaja (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta). Kegiatan yang diselenggarakan oleh UKM TRAS (Tirtayasa Research and Academy Society) bekerjasama dengan MITI Klaster Mahasiswa (MITI KM) ini, dilaksanakan di Aula Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Cilegon, Banten. Sebanyak ratusan mahasiswa hadir memeriahkan acara Seminar Nasional TRACIVAL 2016, bertema “Teknologi untuk Kearifan Lokal Indonesia” yang juga bersamaan dengan pengumuman pemenang Call for Paper dan Neuron Award.

Para pembicara; Bapak Aflakhur Ridlo, M.Sc., Ph.D. dan Bapak Dr. drg. Sigit Wardoyo, M.Kes. dengan moderator Seminar Nasional TRACIVAL 2016

Para pembicara; Bapak Aflakhur Ridlo, M.Sc., Ph.D. dan Bapak Dr. drg. Sigit Wardoyo, M.Kes. dengan moderator Seminar Nasional TRACIVAL 2016

Seminar nasional TRACIVAL 2016 ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa dan masyarakat mengenai permasalahan lingkungan di Kota Industri Cilegon serta memberikan ide pencarian solusi atas permasalahan tersebut dengan kearifan lokal dan juga teknologi. “Untirta mengucapkan terima kasih kepada UKM TRAS dan MITI-KM yang telah mengadakan acara Seminar Nasional di kampus Untirta. Karena dengan acara ini, yang mana melibatkan hampir seluruh universitas di Indonesia, dapat melebarkan nama Untirta di mata nasional. Diharapkan TRAS dan MITI dapat selalu menjadi mitra dan saling bekerja sama dengan lebih baik ke depannya.”, ucap Bapak M. Rahmatullah, S.Pd., staf kemahasiswaan Untirta, saat membuka acara Seminar Nasional mewakili Wakil Rektor III Untirta, Bapak Dr. H. Suherna, S.P., M.Si.

Suasana Seminar Nasional TRACIVAL 2016, saat Bapak Dr. drg. Sigit Wardoyo, M.Kes. menyampaikan materinya

Suasana Seminar Nasional TRACIVAL 2016, saat Bapak Dr. drg. Sigit Wardoyo, M.Kes. menyampaikan materinya

Penyelenggara bekerjasama dengan MITI, dan menghadirkan Bapak Aflakhur Ridlo, M.Sc., Ph.D., salah satu ilmuwan di dalam jejaring MITI, yang juga merupakan peneliti di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), serta Dr. drg. Sigit Wardoyo, M.Kes., Staf Ahli Gubernur Banten, Bidang Kemasyarakatan dan SDM. Menyampaikan mengenai “Peran Teknologi dalam Mengatasi Potensi Degradasi Lingkungan di Kota Industri Cilegon”, Bapak Aflakh menyampaikan pentingnya menghindari penurunan kondisi lingkungan hidup di Kota Cilegon, yang merupakan salah satu kawasan industri yang memiliki nilai strategis bagi Indonesia.

Pak Aflakhur Ridlo, M.Sc., Ph.D., menyampaikan materinya mengenai peran teknologi untuk menghindari penurunan kondisi lingkungan di Cilegon

Pak Aflakhur Ridlo, M.Sc., Ph.D., ilmuwan dalam jejaring MITI yang membagi ilmunya mengenai teknologi untuk menjaga lingkungan

“Penurunan kondisi lingkungan hidup ini bisa dihindarkan dengan penggunaan teknologi sebagai alat pencegahan maupun perbaikannya..”, ungkap Pak Aflakhur Ridlo dalam sesinya, “Terdapat banyak cara dan teknologi lingkungan yang bisa diberikan untuk mengatasi dampak lingkungan dari industrialisasi di kota Cilegon. Cara tersebut antara lain, pertama, penggantian dan modifikasi alat produksi yang menunjang clean production, kedua, pembuatan rencana strategis perusahaan dalam pencegahan polusi, ketiga, penerapan good operating practice dalam pabrik..”, lanjutnya.

Bapak Aflakh saat menjelaskan tentang posisi strategis Cilegon dan potensinya sebagai kawasan industri bagi Indonesia

Bapak Aflakh saat menjelaskan tentang posisi strategis Cilegon dan potensinya sebagai kawasan industri bagi Indonesia

Bapak Aflakh menambahkan, salah satu contoh best-practice dari kota industri yang berhasil adalah Kitakyushu Eco-Town di Jepang. Awalnya industrialisasi menurunkan kondisi lingkungan di kota Kitakyushu, namun dengan pendekatan penanganan limbah secara menyeluruh, dukungan tinggi pemerintah pusat dan daerah, serta pembangunan sarana riset dengan masyarakat akademik, Kitakyushu berhasil mengelola lingkungannya sehingga menjadi kota yang ramah lingkungan.

“Menjadikan kota industri sebagai kota yang ramah lingkungan memang tidaklah mudah. Namun, menjadikan kota industri sebagai kota yang ramah lingkungan dapat dilakukan, dengan melakukan pendekatan integral ke seluruh subsistem yang ada di kota industri tersebut.”, ujar Pak Aflakh menutup sesinya di Seminar Nasional. (DP/UH)