Dr. Eko Fajar Nur Prasetyo, M.Eng Pakar Design Chipset Yang Selalu Cinta Indonesia
May 30, 2012
Dr. Kaharuddin Djenod M.Eng: Arsitektur Perkapalan Indonesia
May 30, 2012

Dr. Nurul Taufiqu Rohman, B.Eng, M.Eng: Pengembang Nano Teknologi di Indonesia

Bagi Dr. Nurul Taufiqu Rochman, B.Eng., M.Eng, segala zat bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan jika kita benar-benar menginginkan. Baja dan beton bisa dibuat lebih kuat 100 kali dari biasanya, pasir uruk bisa diubah menjadi keramik tahan panas tinggi untuk semikonduktor yang bernilai 1.000 kali lipat dari sebelumnya, dan dari sehelai alumunium foil bisa dicipta bom.
Transformasi fungsi sesuai dengan keinginan kita tak ada hubungannya dengan magis. Namun, terkait dengan kemampuan mengontrol zat, material, dan sistem pada ukuran satu nanometer atau satu per miliar meter—skala ini seperti membandingkan ukuran kelereng terhadap Bumi—sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada sebelumnya. Teknologi untuk mengontrol material berskala nanometer ini dikenal sebagai nanoteknologi.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sekaligus Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia ini, mengungkapkan dengan nanoteknologi, kekayaan alam menjadi tak berarti, kecuali kita bisa memberi nilai tambah. Arang yang diekspor ke Korea dan Jepang, misalnya, dengan nanoteknologi bisa dibuat menjadi alat semikonduktor untuk membuat komputer. Pasir zirkomia yang banyak di Kalimantan dan diekspor murah memiliki nilai tambah 1.000 kali lipat jika dijadikan partikel berskala nano. Zirkomia bisa menjadi bahan yang tahan terhadap panas tinggi.
Nanoteknologi juga berguna dalam pembuatan serat optik di dunia telekomunikasi, kaca tahan api, robot mungil yang mampu membunuh virus dan sel kanker dalam tubuh, telepon genggam, dan berbagai teknologi mutakhir.
Sebagaimana prinsip dasar nanoteknologi untuk mengendalikan sifat material, Nurul juga gigih berusaha mengendalikan hidupnya. Setamat program doktor di Jepang, dia tak langsung pulang ke Indonesia. Ia lalu memutuskan bekerja dulu di Pusat Penelitian Daerah Kagoshima, Jepang, guna mengumpulkan modal sekaligus membina jaringan. Statusnya waktu itu pegawai negeri pusat Jepang yang ditempatkan di Kagoshima, daerah yang memiliki 5.000 industri kecil dan menengah. Tugasnya sebagai konsultan atas permasalahan dunia industri Kagoshima.
Selama bekerja di Kagoshima prestasinya dinilai mencengangkan. Dia menemukan cara membersihkan logam berat timbal (Pb) dari kuningan dengan nanoteknologi. Dengan temuan ini, Nurul bisa membuat jutaan meter limbah kuningan di Jepang menjadi bernilai tinggi. Temuan ini dipatenkan, dengan nama Nurul tercantum sebagai penemu utama, membawahi dua profesor dan empat anggota peneliti lain.
Di Jepang, temuan-temuan Nurul diapresiasi sangat baik. Tawaran menetap dan menjadi pegawai dengan iming-iming gaji jauh lebih besar terus diterimanya, tetapi dia memilih pulang.
Ia terus bekerja dan memanfaatkan jaringan di Jepang untuk mengembangkan penelitian nanoteknologi di Indonesia. Ketiadaan alat pembuat partikel berskala nano (sepermiliar meter) di tempat bekerja tak menghentikan langkahnya. Dia mencipta alat sendiri dengan semua komponen dibeli di Glodok, Jakarta. Ia berhasil menciptakan dua spesifikasi alat pembuat partikel nano. Kedua temuan ini sudah dipatenkan.
Dia juga membentuk tim nanoteknologi di LIPI. Direkrutnya orang-orang muda yang baru lulus sarjana dari berbagai universitas di Indonesia. Seorang anggota tim, Agus Sukarto, disekolahkan di Universitas Kaghoshima, tempatnya dulu belajar.
Tak hanya menghidupkan laboratorium nanoteknologi di LIPI, dia pun berusaha membangkitkan nanoteknologi di Indonesia. Ia mendirikan Masyarakat Nanoteknologi Indonesia dan menggandeng universitas, lembaga penelitian, hingga Departemen Pendidikan Nasional untuk mengembangkan nanoteknologi.
Ia juga menciptakan Nano- Edu, paket pengajaran nanoteknologi untuk pelajar, berisi buku dan alat peraga. Menurutnya, anak-anak harus dikenalkan sejak dini nanoteknologi. Alat peraga Nano-Edu sudah dibeli Jepang untuk menunjang pendidikan di sana, tetapi di Indonesia belum sepenuhnya dipakai. Nurul mematenkan temuan ini pada tahun 2006.
Kepuasan sebenarnya yang dialami Nurul adalah saat berkeliling ke industri-industri kecil di Indonesia dan membantu menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi.