Penampilan Terbaik: MITI dan Forum Inovasi Teknologi
June 9, 2014
Indonesia Mendunia: Sepuluh Tahun Penemuan ECVT
June 14, 2014

Indonesia Bersaing: Pemerintah Baru dan Daya Saing Ilmuwan Indonesia

poster talkshow Indonesia BersaingJakarta (miti.or.id) – Pesta demokrasi untuk memilih pemimpin bangsa tinggal menghitung hari. Masyarakat telah disuguhi oleh bermacam kampanye dari masing-masing kandidat presiden bersama tim sukses dan pendukungnya. Lalu apa jadinya saat salah satu di antara pasangan calon menang dan membuat pemerintahan baru? Apa peran ilmuwan Indonesia untuk membantu bangsa ini hingga bisa bersaing?

Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) berbincang mengenai pemerintah baru dan daya saing ilmuwan Indonesia bersama Jaringan Radio MNC (10/06) dalam talkshow Indonesia Bersaing yang dipancarluaskan hingga tiga enam kota di Indonesia, kanal-500 Indovision, dan streaming ke seluruh penjuru dunia. Tema ini diambil sesuai dengan bidang MITI yang banyak bergelut dengan ilmuwan dan kontribusi mereka untuk kedaulatan bangsa. Dr. Edi Hilmawan, Direktur Kebijakan Inovasi Industri MITI, hadir sebagai nara sumber. Beliau menjelaskan mengenai kondisi miris bangsa saat ini.

Tahun 2011 lalu diagung-agungkan sebagai “Momen of Truth” perekonomian Indonesia. GDP kita mencapai USD 3,000 (silakan ‘search’ #c3000 di Twitter) dan diperkirakan akan mencapai USD 5,000 pada tahun 2014. Apa artinya? Sederhana saja dari, ‘daya beli kita meningkat’. Salah satu buktinya adalah pada tahun 2010 harga rata-rata barang konsumsi meningkan 8%, tapi pembelian konsumen meningkat 20%.

Hal tersebut juga dibarengi dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Siapa mereka? Kelas menengah di Indonesia didefinisikan sebagai mereka yang mempunyai pengeluaran per hari USD 2 sa,pai dengan USD 20 (dengan daya beli tahun 2005). Jumlah mereka telah meningkat dari 81 juta di tahun 2003 menjadi 256 juta di tahun 2010 atau lebih dari setengah penduduk Indonesia.

Yang lebih mencengangkan lagi, sampai dengan 2005 pertumbuhan kelas menengah ini didoninasi oleh masyarakat perkotaan, tapi setelah itu? Justru tumbuh di pedesaan! Faktanya masyarakat di pedesaan Indonesia kini juga berkunjung ke minimarket setiap tiga hari sekali. Hebat kan? Bukan hanya pendapatannya saja yang menngkat, seleranyapun berubah. Masyarakat kelas menengah ke atas lebih mementingkan kebutuhan gaya hidup dan kesehatan, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah mulai membeli produk premium.

Pemilikan asing yang semakin meluas membuat industri dalam negeri menciut. Banyak UMKM yang gulung tikar, kalah bersaing dengan industri kelas kakap. Pemerintah yang baru seharusnya mampu untuk memberikan layanan kepada masyarakat dengan usaha mereka yang akan menambah pendapatan negara.

Tiga prioritas pemerintah baru yang harus dilakukan untuk menggeliatkan perekonomian dalam negeri adalah pendampingan untuk UMKM, pemberian akses terhadap teknologi melalui intermediasi, dan peminjaman modal usaha,” jelas Dr. Edi Hilmawan ketika membahas tiga prioritas yang bisa dilakukan oleh pemerintah baru.

Pada akhirnya perjuangan untuk menjadikan masyarakat Indonesia sejahtera bukan hanya milik pemerintah saja. MITI juga mempunyai peran penting untuk mendampingi masyarakat dan mentransfer teknologi kepada mereka. Masa depan dunia ini akan dipenuhi dengan teknologi. Jika Indonesia tidak dapat bersaing dalam urusan teknologi, maka kita akan dikalahkan oleh negara tetangga. (DWH)