Kampanyekan Go Pangan Lokal, MITI Mendapat Dukungan dan Respon Positif Berbagai Pihak
May 19, 2014
MITI Hadiri Lokakarya IBD Angkatan Pertama
May 20, 2014

Kampanye “Go Pangan Lokal!”: Langkah Awal MITI Satukan Gerak Segenap Elemen Mewujudkan Kedaulatan Pangan Di Indonesia

♫ Go go pangan lokal

Go go pangan lokal

Yok ayok optimalkan

Potensi pangan kita

Go go pangan lokal

Mandiri sejahtera

Nusantara kita ♫

Demikian penggalan jingle “Go Pangan Lokal” yang menggema di sembilan kota di Indonesia pada Ahad, 18 Mei 2014. Jingle “Go Pangan Lokal” gubahan Sodik Wardoyo merupakan karya Juara Pertama Lomba Jingle Pangan Lokal yang diadakan oleh Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Jingle karya Yanuar Ershar muncul sebagai pemenang kedua, dan karya Naufal Shidqi Rabbani menjadi pemenang ketiga.

Selain lomba jingle, Gerakan Pangan Lokal 2014 ini juga dimeriahkan dengan lomba esai dan fotografi. Secara berturut-turut, pemenang lomba esai ialah Rizki Aristyarani dengan esai yang berjudul “Keanekaragaman Sumber Pati Lokal dalam Balutan Teknologi” (Juara I); Karunia Romadhani dengan esai berjudul “Gastrotureship: Gastronomy Culture Entrepreneurship, Optimalisasi Desa Wisata Budaya Pangan Lokal sebagai Upaya Pembentukan Masyarakat Indonesia Berkarakter Gastropreneur” (Juara II); Mochammad Ainur Ridlo dengan esai berjudul “Beras Cerdas: No Beras No Cry” (Juara III).

Sedangkan pemenang pertama lomba fotografi ialah Aji Susanto Anom, dengan judul foto “Nenek Penjual Intip, Oleh-Oleh Tradisional Solo”. Juara kedua ialah Ika Prawesty Wulandary, lewat jepretannya yang berjudul “Mie Ayam Bakso dan Secangkir Teh untuk Santapan Keluarga di Sore Hari”. Juara ketiga diraih Sri Herwanto melalui foto yang diberi judul “Nikmatnya Pecel dan Jajanan Pasar”.

Gerakan Pangan Lokal diinisiasi oleh MITI, sebuah lembaga non-pemerintah di bidang pemanfaatan teknologi untuk kebutuhan masyarakat. Tugas utama MITI ialah menjembatani hasil riset yang dilakukan oleh para ilmuwan dan teknolog agar dapat diaplikasikan demi kesejahteraan rakyat.

cover FB FP

Pada tahun 2013, MITI melakukan survei terhadap 500 konsumen di empat kota besar Indonesia, yaitu Bandung, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Hasil survey menunjukkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang cenderung lebih memilih panganan asing daripada lokal. Pola perilaku tersebut menyebabkan maraknya impor pangan, mulai dari beras, sayur, buah, hingga makanan kemasan. Waralaba asing menjamur sedangkan rumah makan lokal masih kalah peminat.

Indonesia belum mampu menegakkan kedaulatan pangan. Masyarakat Indonesia belum dapat memenuhi sendiri kebutuhan pangannya dan masih bergantung pada pasokan pangan dari wilayah lain. Kemiskinan petani, kerawanan pangan, terpuruknya usaha pangan lokal serta asupan gizi masyarakat yang tidak seimbang (karena dominasi konsumsi beras) merupakan beberapa akibat dari tidak tersedianya pangan secara mandiri oleh masyarakat. Hal tersebut melatarbelakangi Gerakan Pangan Lokal yang digiatkan oleh MITI sejak tahun lalu. Diperlukan sinergi dari banyak pihak untuk dapat memberikan penyadaran dan pencerdasan kepada masyarakat agar berbangga dan beralih pada pangan lokal.

Kampanye “Go Pangan Lokal” yang dimulai pada tahun 2013 lalu telah sukses diselenggarakan di empat kota: Bandung, Surabaya, Jakarta dan Yogyakarta. Tahun 2014, Kampanye “Go Pangan Lokal” diselenggarakan di Jakarta (CFD Bunderan HI), Bandung (CFD Dago), Semarang (CFD Simpang Lima), Surabaya (Jalan Tunjungan), Yogyakarta (CFD Malioboro), Medan (Lapangan Merdeka), Jambi (Simpang IV Bank Indonesia), Makassar (Pantai Losari), dan Samarinda (GOR Sempaja).

Di Jakarta, Kampanye “Go Pangan Lokal” juga didukung oleh Kementerian Pertanian, Dompet Dhuafa, Indonesia Bangun Desa, Youth Food Movement, Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia, Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia, Edukasi Gizi, Perhimpunan Petani Sejahtera Indonesia, Asosiasi Pengusaha Singkong Indonesia, Rumah Tempe Indonesia, juga Unit Kegiatan Mahasiswa dan Kelompok-Kelompok Studi Universitas, seperti Universitas Indonesia-Achievement Community, Komunitas Pangan Lokal UI, Tirtayasa Research and Academic Society UNTIRTA, Kelompok Peneliti Muda UNJ, FRES UIN, dan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

Kampanye “Go Pangan Loka!l” Jakarta juga akan dihadiri oleh Ketua Umum MITI, Dr. Warsito Purwo Taruno, serta Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, M.Sc, Walikota Depok yang juga penggagas gerakan One Day No Rice.

Beberapa perwakilan lembaga, komunitas, maupun Unit Kegiatan Mahasiswa dan Kelompok Studi Universitas turut memberikan orasi, menyuarakan dukungan terhadap Gerakan Pangan Lokal, beberapa diantaranya ialah Humairoh Anahdi dari Dompet Dhuafa, Lalu Sandika Irwan dari Indonesia Bangun Desa, Indi Utama dari Youth Food Movement Indonesia, dan M. Abdi Manaf Zuhri dari Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

Sebagai tindak lanjut dari Gerakan Pangan Lokal, MITI meluncurkan Galeri Inovasi dan Teknologi (GIT) yang merupakan wadah intermediasi online antara para inovator dan kalangan bisnis (UMKM serta Industri Pangan). Dibuat dengan tujuan agar inovasi dan hasil riset dari kalangan inovator/akademisi dapat tersalurkan dan diaplikasikan oleh kalangan pebisnis pangan lokal demi menambah nilai jual dan daya saing produknya. Realisasi program GIT dapat diakses oleh inovator maupun UMKM di git-miti.com.

Kampanye “Go Pangan Lokal!” 2014 diharapkan mampu menjadi titik awal bagi MITI dan segenap elemen yang terlibat, baik komunitas pecinta pangan lokal, asosiasi pengusaha pangan lokal dan perkumpulan mahasiswa di bidang pangan lokal dalam mengkaji dan mendiskusikan langkah yang diambil ke depannya untuk berkolaborasi merumuskan strategi dan langkah nyata mewujudkan kedaulatan pangan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 *Perkembangan kegiatan GPL tahun ini dapat dilihat

di http://gopanganlokal.miti.or.id/ (website), @GoPanganLokal (twitter), dan Fanpage Go

Pangan Lokal (facebook).

Website MITI: http://miti.or.id/

Twitter MITI: @MITI_NEWS

Fanpage Facebook: Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI)

BEBERAPA PERNYATAAN DUKUNGAN TERHADAP GERAKAN PANGAN LOKAL MITI:

“Go Pangan Lokal” harus disuarakan oleh kita semua, menjadi seruan yang kita bumikan dengan aksi-aksi nyata. Paling tidak, kita punya dua alasan utama, pertama karena kita mewarisi kekayaan keragaman sumber daya alam hayati yang melimpah. Kedua, karena kita mewarisi kearifan peradaban besar Nusantara yang merdeka.

Kita harus berusaha sepenuh daya dan upaya untuk memastikan tidak ada lagi kasus gizi buruk hanya karena kita menyandarkan pangan kita dari bahan-bahan yang tidak kita miliki. Kita harus bertekad mewujudkan kemerdekaan pangan di Indonesia, sampai seluruh anak bangsa hanya memakai dari apa yang kita pintal dan hanya memakan dari apa yang kita tanam!

(Bambang Suherman, Deputi Direktur Kesehatan Dompet Dhuafa)

Gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah) jangan lagi sekedar semboyan, mari kita wujudkan Indonesia yang mandiri dengan pangan lokal! Potensi pertanian kita sangat besar, bahkan sebuah lirik legendaris yang mengatakan bahwa tongkat kayu dan batupun jadi tanaman, apalagi dengan luasnya sawah yang menghampar dan lebarnya lautan yang membentang.

Indonesia memiliki jumlah penduduk 251 juta jiwa atau 3,5% dari jumlah penduduk Dunia. Tidak hanya kaya akan potensi SDA tetapi negeri kita juga kaya SDM. Oleh karena itu pasar pertanian Dunia ada di Indonesia. Mari bersama dukung pertanian dimulai dari mencintai produk pangan lokal. Jika kita mau pasti kita bisa. “Go Pangan Lokal!”

(Indonesia Bangun Desa)

Ber(t)ani karena benar. Penting bagi anak muda Indonesia untuk kembali bertani memproduksi pangan lokal.

(Youth Food Movement)

“Go Pangan Lokal” memiliki peluang dalam menjaga kemandirian pangan di Indonesia, khususnya membuat masyarakat Indonesia lebih bangga dengan pangan lokal yang ada dan dikonsumsi dalam kesehariannya. Publikasi yang dilakukan kami pikir bisa menjadi pengingat bagi masyarakat akan arti pentingnya mengonsumsi pangan lokal. Aksi pangan lokal tersebut juga kami pikir sebagai tindakan nyata kita pencetus kegiatan untuk mendukung konsumsi pangan lokal dengan mengurangi konsumsi produk impor.

(Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan FATETA IPB)

Kami menyadari bangsa Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan dan mengembangkan pangan lokal disetiap daerah. Oleh karena, itu perlu perhatian khusus dari pemegang kebijakan dan lembaga yang sejalan untuk mendorong pangan lokal untuk dapat menjadi alternatif pangan bila pasokan beras terganggu. Mari bersama mencintai dan mengkonsumsi panganan dalam negeri menuju Indonesia sehat dan mandiri

(Kelompok Peneliti Muda UNJ)

(UA)