Bunga Rampai 5 Negeri
March 12, 2014
Aenean ligula molstie viverra fermentum
March 12, 2014

Kebodohan yang Luar Biasa, Indonesia Masuk G-20 Hasil Dari Menjual TANAH dan AIR

Sambutan Ketua Umum MITI pada acara GIPI

Pidato Pembukaan Ketua Umum MITI dalam Acara GIPI 2 (Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia) di UGM, Yogyakarta

SAMBUTAN KETUA UMUM MITI PADA PEMBUKAAN GIPI 2
GRHA SABHA PRAMANA, UGM
8-9 Maret 2014


pak warsito sambutan di GIPI 2Bismillaahirrahmaanirrohiim

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarokaatuh

Yang Terhormat Bapak Menteri Komunikasi dan Informasi Bapak Tifatul Sembiring beserta Bapak Ibu Pejabat Kementerian

Yang Terhormat Bapak Rektor UGM Prof. Dr. Pratikno beserta jajaran pejabat rektorat UGM

Yang Terhormat Bapak Suharna Surapranata, Menteri Riset dan Teknologi 2009-2011 dan sebagai Ketua Pembina MITI beserta Bapak-Bapak Dewan Pembina MITI

Yang Terhormat Bapak-Ibu pejabat Kementerian Riset dan Teknologi

Para Pembicara Seminar Internasional dan perwakilan organisasi intelektual Indonesia, PPI Dunia, I4, Diaspora dan Ikatan Alumni Habibie

Hadirin Sekalian

Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama kami pengurus MITI Pusat ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian serta adik-adik mahasiswa dari berbagai universitas di DIY dan juga berbagai perwakilan universitas dari seluruh Indonesia dalam acara Gebyar Inovasi Indonesia ke-2 yang diselenggarakan berkaitan dengan Ulang Tahun MITI genap satu dasawarsa. GIPI2 kali ini mengambil tema inovasi di bidang pangan, energi dan kesehatan menuju kemandirian bangsa.

Indonesia telah mencanangkan dengan Visi 2025 untuk menjadi salah satu negara maju di dunia. Secara ekonomi kita masuk dalam G20 negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia. Tetapi secara kualitas nilai tambah ekonomi Indonesia masih sangat rendah, ekspor kita lebih dari 70% masih berbasis bahan mentah tak diolah atau produk berbasis buruh murah, dan hanya kurang dari 30% berbasis teknologi.

Di bidang pangan kebutuhan pangan kita 65% masih impor, sementara 40% penduduk Indonesia adalah petani yang notabene hanya mampu memproduksi pangan, sehingga bisa dikatakan untuk sekedar bertahan hidup pun kemampuan yang dimiliki rakyat kita tidak cukup.

Di bidang energi, sebentar lagi tidak sampai 5tahun lagi kita akan melampaui Amerika sebagai negara pengimpor BBM terbesar di dunia, padahal 10 tahun yang lalu kita masih menjadi anggota OPEC. Saat ini sudah mencapai 65% kebutuhan BBM kita dipenuhi dari impor.

Di bidang kesehatan 95% obat dan alat kesehatan yang digunakan di dalam negeri juga berasal dari impor.

Tetapi bagaimana mungkin ekonomi Indonesia bisa terus berkembang bahkan pada saat negara-negara maju mengalami krisis?

Kalau kita lihat bahwa 70% lebih komoditas yang kita jual adalah bahan mentah hasil galian dari kekayaan alam kita, maka kita faham bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan menjadikan kita masuk daftar 20 negara terkaya di dunia adalah karena kita menjual bagian tanah dan air kita. Tentunya ini merupakan kebodohan yang luar biasa untuk membiarkan hal ini terus terjadi. Apa yang akan terjadi pada anak cucu kita yang pada tahun 2035 yang akan mencapai 300 juta jiwa? Bagaimana mereka akan bisa bertahan hidup kalau bagian tanah dan air sudah dijual oleh orang-orang tua mereka, kita?

Bapak-Ibu dan adik-adik mahasiswa semuanya

Kita bukan tidak punya modal untuk bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh bangsa-bangsa paling maju di dunia sekali pun. Kita memiliki semua modal untuk menjadikan Indonesia yang maju, baik sumber daya alam yang melimpah maupun sumber daya manusianya yang unggul, sesuatu yang sangat sedikit dimiliki oleh negara-negara yang telah maju di dunia. Hanya saja yang belum terjadi adalah ‘matching’ di antara keduanya. Itulah ironi yang terjadi di negeri ini.

Bagaimana membuat keduanya `matching`? Buatlah `rule` yang menjadikan SDM dan SDA menjadi sebuah mata rantai ekonomi yang saling membutuhkan. Rule itu adalah sistem inovasi nasional. Membangun sistem inovasi nasional adalah tugas pemerintah. Janganlah jadi pemerintah kerjanya malah membangun infrastruktur untuk memperlancar pengerukan dan pengapalan bahan-bahan mentah ke luar negeri, sementara anak-anak bangsa yang disekolahkan mahal hanya jadi penonton; kalau hanya menonton pengerukan dan pengapalan batubara atau hasil tambang, kita tidak perlu universitas. Pemerintah seperti itu adalah ibarat para orangtua petani di banyak daerah perkotaan yang menjual sawahnya, kemudian membelikan anaknya sepeda motor dari uang jualan sawah untuk jadi modal sebagai tukang ojek.

Sistem inovasi nasional harus menjamin terjadinya transfer knowledge dari sumber ilmu pengetahuan di universitas dan lembaga penelitian ke sektor pengguna di industry dan bisnis. Pemerintah harus menciptakan ruang, sarana dan insentif bagaimana mata rantai itu bisa terwujud.

Agar SDM lulusan universitas kita bisa terpakai untuk mengolah sumber kekayaan alam kita, maka yang pertama harus dilakukan pemerintah adalah menjamin bahwa proses pengolahannya dilakukan di dalam negeri, tidak menolelir bahan-bahan mentah yang menjadi satu-satunya modal bargaining position kita di tingkat dunia diangkut begitu saja keluar tanpa diolah.

Agar para pengusaha kita mau menanamkan modalnya untuk melakukan pengolahan sumber-daya alam menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi, maka pemerintah harus membangun sarana, memberikan insentif dan membuat aturan agar produk-produk inovasi masyarakat dan karya anak bangsa bisa dipakai di pasar dalam negeri sendiri. Janganlah pemerintah dengan alasan jaminan kualitas membuat aturan yang justru hanya akan meloloskan produk asing tetapi tidak memberi ruang bagi inovasi dalam negeri yang jelas memerlukan proses untuk belajar untuk bisa masuk pasar, padahal pasar yang dimaksud adalah pasar yang didanai dengan pajak rakyat. Pembelian pemerintah yang jelas dengan uang pajak rakyat harus diprioritaskan untuk menjadikan rakyat sendiri lebih berdaya dengan cara menciptakan pasar bagi produk inovasi dari rakyat.

Bapak-Ibu dan adik-adik mahasiswa semuanya

Sejak didirikan 10 tahun yang lalu, MITI membawa misi untuk menjadi pendorong terwujudnya Indonesia yang dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan, bukan eksploitase sumber kekayaan alam semata, tetapi Indonesia yang memanfaatkan kekayaan intelektual dari sumber daya manusianya yang unggul. Oleh karena itu, MITI mengambil peran non-partisan sebagai networking dan pipeline; kita ingin menjadi sumber inspirasi, pendorong dan penghubung ke semua pihak untuk membangun Indonesia yang madani, berbasis ilmu pengetahuan.

Selama 10 tahun ini, MITI telah berupaya membangun jaringan dan kemitraan di seluruh Indonesia dan luar negeri, di kalangan mahasiswa kita telah bermitra dengan hampir 80 kampus di 30 provinsi di Indonesia, kita juga bermitra dengan jaringan PPI Dunia, bermitra dengan berbagai organisasi swadaya masyarakat maupun NGO internasional. Dan dalam kesempatan rangkaian acara GIPI ini kita juga menyelenggarakan Indonesian Intellectual Summit yang menghadirkan perwakilan PPI Dunia, I4, Diaspora dan Ikatan Alumni Habibie, di mana kita berharap bahwa pertemuan ini akan menjadi forum bagi organisasi-organisasi intelektual yang ada di Indonesia yang mempunyai kepedulian terhadap pembangunan Indonesia berbasis Iptek untuk terus menyuarakan dan mengawal kebijakan pemanfaatan iptek untuk pembangunan Indonesia.

Akhir kata, kami ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak atas terselenggarakannya acara besar ini, kepada Bapak Menteri Tifatul Sembiring beserta jajaran Kementerian Kominfo atas kehadiran dan dukungannya, kepada Bapak Rektor beserta jajaran civitas akademika Universitas Gadjah Mada atas dukungan dan kesempatan yang diberikan, kepada panitia utama dari Gama Cendekia dan Ikatan Mahasiswa Pascasarjana UGM, kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta kepada para peserta yang telah hadir untuk menyukseskan acara ini.

Selanjutnya, kami memohon kepada Bapak Rektor untuk memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara GIPI kedua ini.

Terimakasih. Wassalaamu’alaikum wrwb

Dr. Warsito P. Taruno

Ketua Umum MITI