Rakyat Merdeka: Indonesia Siap Tingkatkan Daya Saing Teknologi Inovatif
April 20, 2015
Berita Satu: RI-Jerman Kerja Sama Transfer Teknolog Berbudaya Lokal
May 4, 2015

MITI: Pembangunan Infrastruktur Harus Memberi Manfaat Sepenuhnya Bagi Ekonomi Rakyat Melalui Pemberdayaan Teknologi

Foto Bersama Kunjungan Perwakilan ASEAN dan Pemerintah Jerman Ke MITI

Bandung (miti.or.id) – Indonesia mengalami peningkatan pada peringkat Indeks Daya Saing Global tahun 2014-2015 yang berhasil naik empat tingkat menjadi urutan ke-34 dari 144 negara sesuai laporan yang ditulis oleh World Economic Forum (WEF), di bawah Malaysia (ke-20) dan Thailand (ke-33). WEF menulis peran pembangunan infrastruktur cukup besar mendongkrak peringkat indeks daya saing Indonesia.

 Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi cepat pada dasa warsa ke depan menuju visi Indonesia 2025 dengan adanya percepatan pembangunan infrastruktur di segala bidang yang saat ini gencar dilakukan pemerintah melanjutkan program MP3EI yang dicanangkan oleh pemerintah sebelumnya. Demikian dikatakan Dr. Warsito P. Taruno, M. Eng, Ketua Umum MITI, pada Seminar Internasional dan Bincang Ilmuwan Muda di Universitas Pendidikan Indonesia, Sabtu (25/04), bertepatan akhir pekan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika.

Foto Bersama Kunjungan Perwakilan ASEAN dan Pemerintah Jerman Ke MITI

Foto Bersama Kunjungan Perwakilan ASEAN dan Pemerintah Jerman Ke MITI

Sebagai salah satu ‘leading nation’ pada forum negara-negara Asia-Afrika, Indonesia harus menjadi contoh dalam pembangunan yang mementingkan kesejahteraan masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 menetapkan rencana pembangunan empat infrastruktur prioritas utama yaitu infrastruktur energi, perhubungan, kedaulatan pangan, dan pariwisata untuk menggeliatkan perekonomian dalam negeri. Namun Indonesia dihadapkan pada permasalahan, kata Warsito,  “Apakah sebagian besar rakyat Indonesia akan dapat mengambil bagian dan manfaat dari proses ekonomi dan pembangunan? Atau pembangunan infrastruktur yang masif hanya akan menguntugkan pemilik modal?” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Warsito mengungkapkan pemerintah harus bisa menjamin sebagian besar rakyat Indonesia dapat berpartisipasi dalam rantai ekonomi nasional maupun global. Oleh karena itu, proses pemberdayaan masyarakat dan bangsa harus berjalan, bukan sekedar program ‘santunan’ terhadap masyarakat lapis bawah melalui berbagai program subsidi.

 Berkaitan dengan hal itu, MITI mengambil peran untuk menjadi promotor dan katalisator dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi untuk masyarakat lapis bawah yang disebut ‘bottom of pyramid’ serta program transfer teknologi untuk menjembatani dunia riset dan industri” papar Warsito di hadapan ratusan peserta seminar Internasional yang diselenggarakan oleh UPI tersebut.

Upaya MITI dalam melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi saat ini menjadi contoh program transfer teknologi bagi negara-negara ASEAN yang tergabung dalam program ‘Promoting Innovation and Technology’ (PIT) ASEAN, sebuah program kerjasama Sekretariat ASEAN dengan Pemerintah Jerman. MITI sebagai representatif lembaga transfer teknologi di Indonesia telah melakukan kerjasama dengan Steinbeis Transfer Center, Jerman dalam membuat skema transfer teknologi sesuai budaya lokal Indonesia. Steinbeis Transfer Center adalah sebuah lembaga transfer teknologi di Jerman yang telah berpengalaman selama lebih dari 30 tahun untuk membantu pengembangan dan penerapan teknologi pada usaha kecil, menengah, hingga skala besar.

Georg Villinger, Direktur Steinbeis Transfer Center for Economic Promotion, berharap MITI dapat berperan dalam memdorong pemberdayaan masyarakat Indonesia dengan aplikasi teknologi, pendidikan, dan pendampingan melalui jejaring ilmuwannya yang luas. Ia yang hadir pula sebagai pembicara dalam seminar ini menyampaikan “Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan masyarakat berbasis teknologi dengan jumlah penduduk yang sangat besar. Belajar dari pengalaman pemerintah Negara BRIC’s (Brazil, Rusia, India, danChina), bahwa pembangunan infrastruktur belaka tanpa peningkatan kemampuan mengembangkan teknologi yang dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan akan mengalami stagnasi di suatu saat,” ucapnya. (DWH)